Saya bukan penganut paham liberal, di mana semua kebebasan sangat dijunjung tinggi. Kebebasan yang sangat blas-blasan, kebebasan yang membuat jadi amblass, kebebasan yang terkadang jadi bias, yang bisa menjadi buas, dan membuat orang culas.... (he...he..he... susah juga ya berkata-kata yg ujung2 nya "s").
Tapi, kebebasan untuk mengemukakan pendapat, sekedar berkeluh kesah, sekedar curhat atas ketidak mengertian kita pada apa-apa yang kita alami , nah , saya termasuk pendukung kebebasan ini. Sebagai ibu rumah tangga, wajar dong saya berkeluh kesah kepada suami.... , sebagai warga negara sangat wajar saya berkeluh kesah atas pelayanan pemerintah kita yg kurang optimal dalam menjalani pelayanannya ke masyarakat (bayangkan, untuk kewajiban kita sbg WN yaitu pajak, pemerintah begitu antusias sekali, tapi giliran kita minta hak kita sebagai WN; hak memilih, hak di layani di kelurahan,BPN dlsb ..... kemane aje paakkk, buuu.... :) , trus, sebagai pengguna layanan publik, wajar kan saya berkeluh kesah atas pelayanannya yg kurang sesuai setelah kewajiban membayar saya tunaikan. Tapi, ketika kewajaran2 tersebut ditanggapi secara tidak wajar oleh sebuah instansi atau institusi tertentu ..... wah... bisa dibayangkan begitu tidak nyambungnya, dan hasilnya? .... seperti yang di alami ibu Prita ini.
Andaikan kewajaran2 di atas ditanggapi pula secara wajar, ga akan ada kasus seperti itu. Andaikan pihak yang "merasa" dirugikan *tittttt.... sensor* mau melihat dari sisi positifnya, itu bisa menjadi iklan yang menjual. Andaikan ....... , beranda-andai tidak akan cukup deh ....., yang perlu sekarang adalah coba kita terapkan saat ini juga, ketika kita menghadapi sebuah permasalahan, cobalah di tinjau dari sisi positifnya dahulu.... mugkin benang-benang kusut itu akan mudah kita urai ....
semoga,..... salam positif untuk temanku semua :)
Tapi, kebebasan untuk mengemukakan pendapat, sekedar berkeluh kesah, sekedar curhat atas ketidak mengertian kita pada apa-apa yang kita alami , nah , saya termasuk pendukung kebebasan ini. Sebagai ibu rumah tangga, wajar dong saya berkeluh kesah kepada suami.... , sebagai warga negara sangat wajar saya berkeluh kesah atas pelayanan pemerintah kita yg kurang optimal dalam menjalani pelayanannya ke masyarakat (bayangkan, untuk kewajiban kita sbg WN yaitu pajak, pemerintah begitu antusias sekali, tapi giliran kita minta hak kita sebagai WN; hak memilih, hak di layani di kelurahan,BPN dlsb ..... kemane aje paakkk, buuu.... :) , trus, sebagai pengguna layanan publik, wajar kan saya berkeluh kesah atas pelayanannya yg kurang sesuai setelah kewajiban membayar saya tunaikan. Tapi, ketika kewajaran2 tersebut ditanggapi secara tidak wajar oleh sebuah instansi atau institusi tertentu ..... wah... bisa dibayangkan begitu tidak nyambungnya, dan hasilnya? .... seperti yang di alami ibu Prita ini.
Andaikan kewajaran2 di atas ditanggapi pula secara wajar, ga akan ada kasus seperti itu. Andaikan pihak yang "merasa" dirugikan *tittttt.... sensor* mau melihat dari sisi positifnya, itu bisa menjadi iklan yang menjual. Andaikan ....... , beranda-andai tidak akan cukup deh ....., yang perlu sekarang adalah coba kita terapkan saat ini juga, ketika kita menghadapi sebuah permasalahan, cobalah di tinjau dari sisi positifnya dahulu.... mugkin benang-benang kusut itu akan mudah kita urai ....
semoga,..... salam positif untuk temanku semua :)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar